Selasa, 04 November 2008

Pelabuhan terakhir.....

Hidup ini memang aneh. Kadang kita merasa sangat merana tanpa kawan tapi sekarang aku malah merasa sangat menikmati kesendirianku. Jauh dari kebisingan kantor, jauh dari curhatan kesedihan dan kegembiraan, jauh dari kepenatan yang sudah hampir ndak bisa ku tolerin. Aku... ya hanya aku dan alam. Danau seluas ratusan meter terbentang di hadapku. Kaki2 kurusku tiada arti memainkan riak danau yang tak henti. Aku lari dari masalah... bukan aku hanya istirahat memulihkan tenaga untuk kemudian face 2 face dengan tantangan-tantangan rutinku. Jiwaku muak dengan segala keterbatasan waktu dan kekakuan dunia kantor... ya 1 hal lucu lainnya kantorku sekarang adalah kerjaan yang paling aku inginkan dulunya. Hatiku terombang ambing dengan pilihan2 yang sama bagusnya. Jika saja Allah memberiku hanya 1 pilihan kesempurnaan pasti aku jadi orang paling bahagia. Selalu ada 2 pilihan dalam hidupku.... pilihan di tengah keplin plananku.



Hati dan masa depan.... mana yang kau pilih? Aku orang yang realistis tapi kini aku sendiri ndak tahu kemana kerealistisan itu hilang. Aku orang yang ndak percaya dengan belahan hati dan cinta sejati. Sudah berulang ratus kali aku kecewa... kecewa dengan pasangan hidup, ndak aku tetap berharap suatu hari aku punya anak2 yang comel dan pinter. Tapi aku hanya ndak berani percaya pada cinta. Sekarang da pangeran kodok yang menawarkan cinta sejati. Dimatanya ku temui ketulusan, setiap tutur katanya di padati kejujuran. Perasaan nyaman menyertai kebersamaanya. Tapi dia jauh dari kemapanan seorang pangeran dari segi materialistik. Di satu sisi datang seorang raja menawarkan cinta yang sama. Sosok dewasa dengan kemandirian ekonomi. Sosok Raja yang merupakan saudara jauh. Sebenarnya kerealistisanku memihak pada sang raja. Tapi hatiku telah dimiliki oleh sang pangeran kodok. Dan aku ndak mau jadi penyebab kegilaannya jika aku memutuskan untuk meninggalkannya. Aku manusia yang bisa bertahan tanpa cinta tapi dia ndak. Hidupku ini bukan hanya milikku. Aku hidup untuk bundaku. Aku ndak mungkin menyampingkan bundaku hanya untuk alasan cinta. Bagi bunda, sosok yang menganggap "CINTA" itu hanya sebuah kebohongan dan semu, maukah dia mengerti pa yang kurasakan.




Rasa yang ku yakin juga dirasakannya dulu. Di awal pertemuannya dengan ayahku. Kadang aku takut luka cinta bundaku akan terulang pada kisahku. Aku seorang pengecut yang ndak berani menanggung resiko itu. Aku sangat sayang ma pangeran kodokku tapi bundaku adalah hidupku. Aku ndak mungkin membiarkan bundaku hidup dengan ku hanya bermodal cinta. Tapi aku juga ndak mungkin melakukan apa yang ndak dihatiku. Ya Allah berikan jalan untuk aku dan pangeran kodok bersatu dalam kesakralan rumah tangga hingga maut memisahkan. ya Allah berikan hamba kesempatan untuk membahagiakan bundaku dan keluargaku.



Hari ini aku sengaja menenangkan diri. Lebih tepatnya aku berusaha untuk menghilangkan diri. Jauh dari semuanya. Di daerah yang tidak ada orang yang mengenalku. Di daerah dimana aku bisa jadi egois dan hanya memikirkan diriku. Aku ingin menghilang... aku benci liat aku yang pengecut dan sangat pengecut. Aku marah pada diriku.... Marah pada ketidak mampuanku memutuskan. Aku ingin hidup berdua dengan damai bersama pangeran kodokku tapi mampukan aku hidup dengan mengabaikan perasaan bundaku. Buat pa bercinta jika takut untuk sengsara.... Aku memutuskan pelabuhan terakhirku... Dia dengan kesederhanaan dan ketulusan. Aku yakin dia bisa membahagianku dan bundaku. Amin....

1 komentar:

Dream... mengatakan...

terimakasih telah memilih aku, dengan darah yang ada ditubuhku aku berjanji membahagiakan dirimu. dengan allah yang menguasai langit dan bumi aku berjanji tiada air mata kesedihan dan kecewa dimatamu. dengan segala upaya akan kulakukan sampai ajalku datang untuk selalu membuat senyum manis yang akan hadir diwajahmu...amaneku

 

Design By:
SkinCorner