Rabu, 19 November 2008

Rain menangis lagi......

"Dasar anak durhaka... Ku besarkan kau dari kecil. Ku tuntun kau ke sekolah. Ngak tidur aku menjagaimu. Uda besar kau ........................ ................... ................." rain menyudut diam mendengar amaran bundanya. Jika diingat-ingat lagi sejak abang lulus kuliah suasana rumah hijau semakin ngak nyaman. Abang bruba jadi brutal dan selalu bantah ma bunda. Rain semakin besar dan mulai mengerti setiap kata-kata bundanya. Rain malah semakin ngak ngerti sumpah serapah abang. Kenapa ngak perna ada damai di rumah hijau.


Rain menangis lagi.... lelah, air matanya menitik malu-malu. Rain sudah tahu malu. Rain merasa malu tiap kali rumah hijau diguncang amara. Rain malu ma tetangga. Rain kasihan ma bunda tapi juga kesal. Kenapa bunda ngak membiarkan aja abang terpuruk dengan prinsipnya, yang nurut bunda ngak benar. Kalo Rain pasti akan membiarkan abang dengan jalannya, walau jalan itu salah Rain ngak peduli. Toh Rain ada perna ngingatkan, tapi kenapa bunda ngak bisa seperti Rain membiarkan hal itu. Rain bosan Allah, dengar kata-kata kutukan yang keluar dari mulut bunda. Rain benci ya Allah dengan kata-kata kotor abang.


Ya Allah hari ini Rain menangis lagi.

Ya Allah Rain berharap inilah tangisan kesedihan Rain yang terakhir kalinya.... Amin

Ya Allah kata bunda doa anak yang ngak nakal akan dikabulkan.

Ya Allah Rain janji ngak nakal-nakal ya Allah.

Ya Allah Rain hanya mohon bunda, ayah dan abang bisa rukun dan dame lagi....

Amin...
Amin...

Ya Robbalalamin....

Kamis, 13 November 2008

Semakin lama semakin.....

Hari itu kalo dibilang aku melakukan hal yang belum pernah ku lakukan sebelumnya. Aku bolos dari kantor tanpa berita dan dia juga untuk pertama kalinya bolos dari mata kuliah favoritnya. Hatiku sungguh ngak tenang tapi aku memang pegen melakukan hal ini, sekali-kali... ya hanya boleh sekali-kali. Tanpa tujuan jelas kami hilir mudik dengan motorku. Jujur dia belum begitu mahir membawakanya tapi mungkin karena percaya, aku jadi ngak khawatir dia yang bawa motor. Seperti musafir kami singgah di sebuah mesjid, shalat Ashar dan meneruskan tujuan yang kini telah ditentukan.

Awalnya aku ingin menenangkanya yang lagi suntuk n sekalian aku juga memang pengen bersama dia. Maklumnya kami hanya bisa ketemu disela-sela waktu yang dipaksakan ada. Ternyata perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Tetap disaat-saat kami mulai merasa nyaman ternyata si motor cemburu n ngadat di tengah lahan lumpur. Jadilah kami hampir jatuh... dua kali. Aku sebenarnya ngak kesel hanya malu karena kebetulan ada beberapa mata yang melihat. Justru yang buat aku kesel itu malah permintaan maafnya yang berulang-ulang. Alhasil sewotku jadi keluar dan aku jadi nyesel uda buat dia lebih merasa bersalah lagi. Aku diam... takut malah jadi tambah buat dia serba salah.. dan aku diam takut buat aku tambah kesel. Aku tahu ditengah kediamanku dia pasti bingung. Tapi justru itulah yang terbaik.

Dalam diamku aku berfikir. Mampukan aku menjalankan hidup dengan segala likunya. Baru kerikil kecil za aku da kesel pada lagi... Aku berharap sosok bertangan kekar yang mampu melindungiku dari segala masalah yang menyapa, dia kah orangnya????

Pagi ini aku menerima sms dari nya. Isinya rayuan pagi hari... biasalah. Aku kembali teringat pada pertanyaanku semalam... diakah?? Tapi sekarang aku tambah mantap dengan pilihanku. Aku ngak butuh tangan kekar yang melindungi dari semua masalah yang datang, karena aku yakin tidak akan perna ada tangan kekar yang mampu mangkis semua masalah. Aku ngak butuh tangan kekar yang melindungiku dari semua masalah karena itu justru buat aku tambah lemah dan buatku jadi manusia bodoh. Yang aku butuhkan hanya sebuah tangan tempat aku menyandarkan kepalaku dari kepenatan. Sebuah tangan yang membelai jauh lelahku dan sebuah tangan yang mampu membuatku jauh lebih kuat dan berarti. Semakin lama aku semakin sayang ma ubur-uburku ini.
Ames me

Selasa, 04 November 2008

Pelabuhan terakhir.....

Hidup ini memang aneh. Kadang kita merasa sangat merana tanpa kawan tapi sekarang aku malah merasa sangat menikmati kesendirianku. Jauh dari kebisingan kantor, jauh dari curhatan kesedihan dan kegembiraan, jauh dari kepenatan yang sudah hampir ndak bisa ku tolerin. Aku... ya hanya aku dan alam. Danau seluas ratusan meter terbentang di hadapku. Kaki2 kurusku tiada arti memainkan riak danau yang tak henti. Aku lari dari masalah... bukan aku hanya istirahat memulihkan tenaga untuk kemudian face 2 face dengan tantangan-tantangan rutinku. Jiwaku muak dengan segala keterbatasan waktu dan kekakuan dunia kantor... ya 1 hal lucu lainnya kantorku sekarang adalah kerjaan yang paling aku inginkan dulunya. Hatiku terombang ambing dengan pilihan2 yang sama bagusnya. Jika saja Allah memberiku hanya 1 pilihan kesempurnaan pasti aku jadi orang paling bahagia. Selalu ada 2 pilihan dalam hidupku.... pilihan di tengah keplin plananku.



Hati dan masa depan.... mana yang kau pilih? Aku orang yang realistis tapi kini aku sendiri ndak tahu kemana kerealistisan itu hilang. Aku orang yang ndak percaya dengan belahan hati dan cinta sejati. Sudah berulang ratus kali aku kecewa... kecewa dengan pasangan hidup, ndak aku tetap berharap suatu hari aku punya anak2 yang comel dan pinter. Tapi aku hanya ndak berani percaya pada cinta. Sekarang da pangeran kodok yang menawarkan cinta sejati. Dimatanya ku temui ketulusan, setiap tutur katanya di padati kejujuran. Perasaan nyaman menyertai kebersamaanya. Tapi dia jauh dari kemapanan seorang pangeran dari segi materialistik. Di satu sisi datang seorang raja menawarkan cinta yang sama. Sosok dewasa dengan kemandirian ekonomi. Sosok Raja yang merupakan saudara jauh. Sebenarnya kerealistisanku memihak pada sang raja. Tapi hatiku telah dimiliki oleh sang pangeran kodok. Dan aku ndak mau jadi penyebab kegilaannya jika aku memutuskan untuk meninggalkannya. Aku manusia yang bisa bertahan tanpa cinta tapi dia ndak. Hidupku ini bukan hanya milikku. Aku hidup untuk bundaku. Aku ndak mungkin menyampingkan bundaku hanya untuk alasan cinta. Bagi bunda, sosok yang menganggap "CINTA" itu hanya sebuah kebohongan dan semu, maukah dia mengerti pa yang kurasakan.




Rasa yang ku yakin juga dirasakannya dulu. Di awal pertemuannya dengan ayahku. Kadang aku takut luka cinta bundaku akan terulang pada kisahku. Aku seorang pengecut yang ndak berani menanggung resiko itu. Aku sangat sayang ma pangeran kodokku tapi bundaku adalah hidupku. Aku ndak mungkin membiarkan bundaku hidup dengan ku hanya bermodal cinta. Tapi aku juga ndak mungkin melakukan apa yang ndak dihatiku. Ya Allah berikan jalan untuk aku dan pangeran kodok bersatu dalam kesakralan rumah tangga hingga maut memisahkan. ya Allah berikan hamba kesempatan untuk membahagiakan bundaku dan keluargaku.



Hari ini aku sengaja menenangkan diri. Lebih tepatnya aku berusaha untuk menghilangkan diri. Jauh dari semuanya. Di daerah yang tidak ada orang yang mengenalku. Di daerah dimana aku bisa jadi egois dan hanya memikirkan diriku. Aku ingin menghilang... aku benci liat aku yang pengecut dan sangat pengecut. Aku marah pada diriku.... Marah pada ketidak mampuanku memutuskan. Aku ingin hidup berdua dengan damai bersama pangeran kodokku tapi mampukan aku hidup dengan mengabaikan perasaan bundaku. Buat pa bercinta jika takut untuk sengsara.... Aku memutuskan pelabuhan terakhirku... Dia dengan kesederhanaan dan ketulusan. Aku yakin dia bisa membahagianku dan bundaku. Amin....
 

Design By:
SkinCorner