Sosok itu begitu anggun. Tak satu pun orang yang berani untuk menyakitinya. Dia seolah punya daya pikat yang sempurna. Jangan buat cowok, cewek sendiri pun kagum pada pesonanya. Dari caranya berjalan, bertutur sapa, semuanya mencerminkan cewek banget. Ya itu lah dia sang manusia jaring laba-laba. Bukan aku menamainya karena iri pada pesonanya... bukan... ku tegaskan bukan. Walau kadang aku berusaha untuk bisa sepertinya, ya kadang aku meniru cara bicaranya tapi aku sama sekali tidak iri padanya. Bagiku dia pemotivasi untuk lebih baik n baik lagi. Lantas apa alasanku menjulukinya si manusia jaring laba-laba???
Manusia jaring laba-laba... cocok untuk image yang ditebarkanya, memikat, menawan tapi terkadang malah bawa petaka. Atau lebih tepatnya jujur aku takut pada pesonanya. Sudah berapa kali aku melihat air mata dari cewek-cewek lain yang tertenggut cintanya. Sudah puluhan kali aku melihat cowok-cowok yang menginjak harga dirinya sendiri untuk mendapatkan sedekah cintanya. Tapi tak sekali pun aku melihat dia meletakankan cintanya pada mereka. Terkadang aku malah tidak habis pikir, seluas apa hatinya sehingga bisa memuat semua cinta mereka. Mengerikan... dia justru sadar akan ulahnya dan mulai menikmati setiap permainnya. Apa alasan sebenarnya dia hidup? Puaskan dia dengan hidupnya saat ini? Cowok seperti apa yang nantinya bisa memenjarakan petualangannya? Andai dia mengerti kata-kataku ingin rasa aku berteriak menyuruhnya untuk beristirahat sejenak dari kekacauan yang di timbulkannya. Ingin rasanya aku tahu akhir kisah hidupnya, tapi aku hanyalah titik-titik air yang hanya bisa mengunjunginya sesekali di bulan Oktober, yang mereka panggil hujan.
