Kamis, 17 Juli 2008

Manusia Jaring laba-laba

Sosok itu begitu anggun. Tak satu pun orang yang berani untuk menyakitinya. Dia seolah punya daya pikat yang sempurna. Jangan buat cowok, cewek sendiri pun kagum pada pesonanya. Dari caranya berjalan, bertutur sapa, semuanya mencerminkan cewek banget. Ya itu lah dia sang manusia jaring laba-laba. Bukan aku menamainya karena iri pada pesonanya... bukan... ku tegaskan bukan. Walau kadang aku berusaha untuk bisa sepertinya, ya kadang aku meniru cara bicaranya tapi aku sama sekali tidak iri padanya. Bagiku dia pemotivasi untuk lebih baik n baik lagi. Lantas apa alasanku menjulukinya si manusia jaring laba-laba???
Manusia jaring laba-laba... cocok untuk image yang ditebarkanya, memikat, menawan tapi terkadang malah bawa petaka. Atau lebih tepatnya jujur aku takut pada pesonanya. Sudah berapa kali aku melihat air mata dari cewek-cewek lain yang tertenggut cintanya. Sudah puluhan kali aku melihat cowok-cowok yang menginjak harga dirinya sendiri untuk mendapatkan sedekah cintanya. Tapi tak sekali pun aku melihat dia meletakankan cintanya pada mereka. Terkadang aku malah tidak habis pikir, seluas apa hatinya sehingga bisa memuat semua cinta mereka. Mengerikan... dia justru sadar akan ulahnya dan mulai menikmati setiap permainnya. Apa alasan sebenarnya dia hidup? Puaskan dia dengan hidupnya saat ini? Cowok seperti apa yang nantinya bisa memenjarakan petualangannya? Andai dia mengerti kata-kataku ingin rasa aku berteriak menyuruhnya untuk beristirahat sejenak dari kekacauan yang di timbulkannya. Ingin rasanya aku tahu akhir kisah hidupnya, tapi aku hanyalah titik-titik air yang hanya bisa mengunjunginya sesekali di bulan Oktober, yang mereka panggil hujan.

Pejalanan Awal Juli

Rintik hujan samar terlihat di awan yang masih mengggulung keperak-perakan. Aura hijau terpancar dari helai-helai daun terdiam syaduh. Danau itu masih beriak teratur terselubung kabut tipis. Aku masih juga tak melepas pandangku dari alam. Kaki-kakiku mulai membeku. Aku hampir tak bisa merasakan kakiku. Perlahan ku gerakan ujung-ujung kakiku... sakit seperti ribuan semut bergelantungan. Satu dua langkah dan pada langkah ke ke tujuh aku tidak lagi merasakan sakit. Kurapatkan jaket creamku, tetap tak bisa mengusir dingin. Seorang teman menegurku dan mengajakku masuk, takut sakit katanya. Kuturuti maunya memang aku mulai merasakan badanku ngilu. Kadang aku merasa sangat bersyukur dengan apa yang aku punyai, tapi namanya juga manusia kadang malah setan membuat aku tak punya arti (dalam hal ini aku sengaja mengkambing hitamkan setan).


Kenapa tidak aku bersyukur. Hampir semua yang ku inginkan terkabul. Walau lagi-lagi setan selalu membujukku dengan permintaan yang lebih dan lebih hingga tak jarang aku merasa hidupku ini hampa.... dasar manusia, dan aku hanya berusaha bersikap realistis.

Dulu bunda hampir tidak pernah mengajak aku dan kakakku jalan-jalan (bukan berarti tidak pernah). Kebetulan hubungan bunda dengan saudaranya pernah terputus, panjang kisahnya jika harus diceritakan. Aku yang sejak kecil memang sangat menyukai traveling sering merengek tapi usahaku sia-sia. Bunda slalu beralasan kalo aku masih terlalu kecil untuk melakukan perjalanan bahkan untuk sekedar jalan-jalan di tempat wisata yang hanya berjarak 1 km dari rumah bunda juga tidak bersedia. Kadang bunda malah beralasan tidak punya uang dan seribu dongeng alasan. Satu kata-kata bunda yang ku pegang sebagai janji sampai sekarang "Nanti kalo uda besar semua akan bi jalani, malah gratis lagi.". Memang kehidupan ekonomi kami pas pasan, ayahku tidak bekerja dan kami makan dari usaha kedai sampah bunda(kedai kelontong reg). Alhamdullillah entah doa bundaku terkabul atau hanya faktor keberuntungan saja, dari mulai tamat SMU aku selalu dapat pekerjaan diluar kota. Dengan kata lain aku selalu bepergian dan tentunya gratis. Itu hanya contoh kecil dari keinginaku yang terkabul. Subhanallah sungguh Allah itu ada.

Manusia...manusia tidak pernah puas dan setan selalu setia menemani manusia untuk terus meninta dan meninta. Setelah dapat pekerjaan yang ku inginkan aku mulai bosan dan merasa cape untuk terus keluar kota. Aku mulai bertanya apa yang paling penting dari hidup ini sesungguhnya.
Seorang teman berkata "KEBAHAGIAAN" Akhirnya aku mulai mencari kebahagian itu dengan cara yang bisa buat aku bahagia, walau mungkin beberapa orang terutama bundaku merasa aku semakin jauh darinya.

Perubahan sikapku yang drastis justru membuat orang-orang yang kusayangi marah. Lalu aku mulai mengerti bukan kebahgian yang paling utama dari hidup... lalu apa....


Aku bertanya dan tak bosan bertanya. Jawaban yang kuterima berbeda-beda tapi pada dasarnya inti sama "KEBAGIAAN". Aku belum puas juga karena menurutku kebahagiaan saja ngak akan pernah cukup untuk buat hidup ini berarti. Jadilah aku hidup dengan kekakuan tanpa tau apa yang ku cari sebenarnya.

Perna aku tidak bisa tidur.... sulit sekali untuk ngundang rasa kantuk. Kulihat adik tidur dengan pulasnya. Pasti sangat menyenangkan jika saat ini aku juga bisa tidur sepertinya. Besok tugas kantor sudah menunggu...duh aku harus tidur untuk siap nenyongsong hari esok. Aku terhentak dan kemudian tau jawaban dari semua pertanyaanku "BERSYUKUR" Sebagai manusia kita tidak akan pernah bahagia jika kita tidak bisa menyukuri apa yang kita punya. Hal-hal sepele yang tidak disyukuri justru bisa membawa masalah besar. Contohnya tidur kita dimalam hari, selera makan siang kita.

Bisa kah kau bayangkan suatu hari nanti kau tidak bisa berjalan hanya karena selama ini terlalu dimanjakan dengan sepeda motor yang tidak kau miliki lagi.

 

Design By:
SkinCorner